Jumat, 25 Maret 2016

Puisi Wanita Muslim



Puisi 
 
 
Agar cantiknya tubuhmu tak terlihat oleh mereka sang mata-mata jahil..
Pakailah jilbabmu, ukhti..
Agar cinta yg kau dapat bukanlah cinta biasa..
Pakailah jilbabmu, ukhti..
Sungguh kau terlihat begitu anggun dgn pakaian yg rapi:)

Ukhti, pakailah jilbabmu..
Karna Allahpun akan mencintaimu..
Karna Allahpun akan menjagamu..

Tak perlu takut wajah cantikmu tak akan menarik..
Karna sungguh, kau begitu berharga..
Begitu mahal untuk diobral..
Begitu cantik untuk dipandang..

Ya ukhti..
Aku pun mencintaimu saudariku..
Aku ingin mengjakmu untuk mengikuti aturanNya..
Bukan skedar jilbab, ukhti!
Agar kau terjaga..
Ckuplah yg 'halal' yg dpt memandangmu..
Agar sang 'halal'pun merasa teristimewa :)

Mungkin slama ini yg kau tau jilbab adalah sehelai kain yg menutupi rambutmu..
Bukan, ukhti!
Bukan!
Jilbab adalah kain yg tebal, yg menjulur sampai menutupi dada kalian!
Ingat, ukhti..
Azab Allah sangatlah pedih..
Jangan kalian tebar fitnah dgn mengumbar aurat kalian..



"Bukan sebuah pilihan"

 
Yang tak bisa di tawar lagi, tak bisa di negosiasi lagi
Bukanlah tentang berhijab atau tidak
Tapi memang suatu KEWAJIBAN

Iya atau tidak bukan sebuah pilihan
Kau tau apa itu kewajiban?
Kewajiban bukan hal yg bisa dipilih
Tapi dijalankan dengan sepenuh hati

Identitasmu terbentuk dengan hijab
Kalam Allah terukir dengan sangat sempurna
Jaga pandanganmu dari yang bukan halal bagimu
Bentengi hati demi menjaga kesucian cintaNya

Namun, bukankah sungguh ironis jika melihat kenyataan?
Mengapa kau mengaku wanita muslim jika mendustai AyatNya?
Mengapa kau dengan berbangga hati memperlihatkan kecantikanmu?
Tidakkah kau berfikir sejenak ttg hari akhir?

Manusia di ciptakan dengan derajat yang sama di mata Allah
Begitupun dengan wanita
Namun.. ada pilihan sendiri bagi manusia
Ia akan memilih kebaikan atau sebaliknya

Dan sesungguhnya Allah maha mengetahui semua yang kita lakukan
Sehat dan tak kurang suatu apapun masih saja kita lupakan
Lantas, ni’mat Allah yang mana lagi yang engkau dustakan?

“ALLAH DOESN’T LOOK AT YOUR FACE OR YOUR BODY, RATHER ALLAH LOOKS AT YOUR HEART AND YOUR PIOUS”




"Aku dan Yang Teristimewa"

Meski tak sekokoh iman Asiyah
Meski tak setegar sabar Maryam
Meski tak sekaya hati Khadijah
Meski tak secantik putri Fatimah

Aku akan mencoba...
Belajar...
Dari keshalehan mereka
Ikhtiar...
Merapikan diri yang kian berantakan

Mereka wanita teristimewa
Di seantero semesta ini, bahkan di akhirat kelak
Dan itu nyata dalam sabda Rasul
Yang kuingin bisa seperti mereka

Namun aku begitu hina
Sekadar khayalpun tak pantas rasanya bersanding dengan mereka
Aku hanyalah seonggok daging yang menjijikkan
Sedang mereka adalah bongkahan-bongkahan permata berharga
Yang amat menawan dimataMu

Aku begitu rendah
Sedang mereka begitu tinggi derajat kemuliaannya
Karena memang merekalah
Yang teristimewa

Sejatinya Muslimah shalehah
Dengan balutan hijab yang melindungi harga diri dan kehormatannya
Tak hanya sebatas penghias mahkota di kepala
Tapi juga menambah anggun akhlaknya

Berbeda dengan diri yang sangat kotor ini
Aku ingin mencontohnya
Ingin sekali memiliki Din secara kaffah
Layaknya empat wanita teristimewa itu
Bimbing aku, Robbi...

Mereka wanita berhijab
Dan sungguh-sungguh berhijab
Sedang aku?
Mengenakan pakaian kehormatan
Tapi tak terhormat

Telanjang!
Ya, bisa dikata demikian
Berkerudung namun hati tercemar dosa
Hijab terulur kedada namun akhlak tak tentu arah
Tak menuju ke arahMu
Tak teguh berpijak di jalanMu

Masih pantaskah aku mengenakan ini?
Kain lebar bernama kerudung yang melekat di kepala
Masihkah layak aku menyandang gelar Muslimah?
Wahai Dzat Yang Maha Mulia, perkenankan doaku

Ampuni segala dosaku
Tetes air mata ini takkan mampu melunturkan dosaku
Meski aku bersimpuh
Kecuali atas kuasaMu, Yaa Rahman...

Terkadang aku merasa memiliki dua sisi
Saat ku di sini aku begini
Saat ku di situ aku begitu
Dan seharusnya memang aku begitu
Beraqidah dan berakhlak seperti mereka

Aku rindu sosok itu
Yang teristimewa...
Asiyah, Maryam, Khadijah, dan Fatimah
Kalian inspirasiku tuk tetap pertahankan hijab ini
Jadikan aku seorang khusnul khotimah, Ya Illahi...
Maha Daya Engkau, satu-satunya Rabbku
Yang menjadi pena adalah kebaikan,
yang menjadi tinta adalah kemanusiaan.
Masa depan bangsa menjadi karya bersama,
dari rakyat jelata hingga pemimpin di singgasana.
Yang harus dibabat adalah egoisme dan kebencian,
yang mesti dirajut ialah solidaritas dan kepedulian.
Sebab Indonesia dibangun tokoh-tokoh yg memandang jauh ke depan,
bukan hanya sibuk sandang pangan apalagi perhiasan.
Saatnya yang muda yang berperan
dengan kreativitas yang tak gampang padam.
Jangan takut dengan kegagalan, kerja keras dulu,
pencapaian menyusul kemudian.
Bekerja dan berbuatlah dengan sebait puisi,
aku ingin berkarya seribu tahun lagi.